psikologi nostalgi dalam desain
mengapa gaya retro selalu kembali tren setiap 20 tahun
Pernahkah kita memperhatikan lemari pakaian belakangan ini? Atau mungkin playlist musik yang sedang ramai diputar di berbagai kafe? Tiba-tiba celana kargo kebesaran, kamera digital saku, dan estetika warna-warni Y2K kembali merajai jalanan. Rasanya seperti kita terlempar masuk ke mesin waktu dan kembali ke awal tahun 2000-an.
Saya sendiri sempat tersenyum geli saat melihat kaset pita dan piringan hitam kembali dijual dengan harga selangit. Reaksi pertama kita mungkin sinis. Apakah desainer zaman sekarang sedang kehabisan ide? Atau, jangan-jangan ini cuma trik industri raksasa untuk mendaur ulang barang lama demi keuntungan? Tahan dulu. Jawabannya ternyata jauh lebih dalam dari sekadar urusan fesyen yang malas atau algoritma media sosial. Fenomena ini adalah sebuah kisah yang memikat tentang bagaimana otak kita bekerja.
Dalam dunia desain dan budaya pop, ada sebuah pola sejarah yang sangat terkenal: siklus dua puluh tahunan. Teman-teman mungkin menyadari ritme ini. Pada tahun 80-an, budaya pop terobsesi dengan estetika tahun 60-an. Masuk ke tahun 2000-an, tren tahun 80-an seperti musik synth-pop dan palet warna neon meledak lagi. Sekarang, di tahun 2020-an, kita sedang mabuk kepayang dengan segala hal berbau era 2000-an.
Secara historis, para sosiolog melihat ini sebagai pergantian tongkat estafet generasi. Anak-anak yang dulunya mengonsumsi budaya pop kini tumbuh dewasa. Mereka mulai menduduki posisi penting sebagai sutradara film, desainer pakaian, atau arsitek kota. Secara otomatis, mereka menuangkan apa yang mereka sukai di masa kecil ke dalam karya mereka saat ini. Sangat logis, bukan? Tapi tunggu sebentar. Kenapa harus memori masa kecil dan remaja yang dihidupkan lagi? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam saraf kepala kita, sampai-sampai kita begitu mendamba masa lalu secara kolektif?
Di sinilah ilmu psikologi masuk membawa jawaban yang membuat kita harus berpikir ulang. Otak kita punya fenomena biologis yang disebut oleh para ahli saraf kognitif sebagai reminiscence bump (lonjakan kenangan). Sederhananya, ini adalah fase di mana otak kita merekam memori dengan tingkat kejernihan dan emosi yang paling maksimal, biasanya terjadi antara usia 10 hingga 30 tahun.
Pada masa ini, kita sedang membentuk identitas. Lagu pertama yang menemani kita patah hati, film yang kita tonton saat membolos sekolah, atau sepatu yang kita pakai saat kencan pertama. Semuanya terekam oleh otak seperti paku yang ditancapkan kuat-kuat ke dinding beton.
Namun, mari kita pikirkan sesuatu yang lebih aneh lagi. Belakangan ini, banyak generasi muda yang sangat meromantisasi era 90-an atau bahkan 80-an. Padahal, mereka belum lahir saat itu. Bagaimana mungkin kita bisa merindukan masa yang tidak pernah kita singgahi? Psikologi punya istilah khusus untuk anomali ini: anemoia, yaitu nostalgia terhadap waktu yang tidak pernah kita alami. Otak kita seolah sedang mengarang kerinduan. Pertanyaannya, untuk apa otak kita bersusah payah menciptakan rasa rindu pada masa lalu, baik yang asli maupun yang fiktif? Rupanya, ada satu rahasia besar tentang kelangsungan hidup manusia di balik ini semua.
Mari kita bedah fakta ilmiah utamanya. Selama berabad-abad, nostalgia dianggap sebagai penyakit kejiwaan. Pada abad ke-17, itu didiagnosis sebagai semacam melankolia parah yang menahan seseorang untuk maju. Namun, teknologi pemindaian otak modern (fMRI) dan penelitian psikologi klinis terbaru membuktikan fakta yang sebaliknya. Nostalgia adalah mekanisme pertahanan biologis yang luar biasa cerdas.
Ketika kita merasa cemas, kesepian, atau menghadapi tekanan hidup sebagai orang dewasa yang melelahkan—seperti krisis finansial atau pandemi global—otak kita membunyikan alarm bahaya. Sebagai respons perlindungan, otak menembakkan dopamin (senyawa kimia pembawa rasa senang) dan mencari "selimut psikologis" yang aman. Selimut itu adalah masa lalu.
Sebuah studi klinis dari Universitas Southampton bahkan menemukan fakta fisik yang mengejutkan: merasa nostalgia benar-benar bisa menaikkan suhu tubuh kita. Ya, memori masa lalu secara literal menghangatkan tubuh kita saat kita merasa kedinginan atau terasing.
Jadi, siklus desain 20 tahunan itu sebenarnya terkalibrasi dengan sangat sempurna oleh biologi. Saat satu generasi memasuki usia 30-an dan 40-an—masa di mana krisis eksistensial, tuntutan pekerjaan, dan stres hidup memuncak—mereka secara kolektif memutar kemudi ke belakang. Mereka menciptakan ulang desain, musik, dan gaya hidup dari masa muda mereka. Bukan karena mereka mandek berkarya, melainkan otak mereka sedang mencoba menciptakan ruang aman secara massal. Ini adalah insting bertahan hidup.
Mengetahui fakta ini membuat saya pribadi memandang tren retro dengan kacamata yang sama sekali berbeda. Lain kali kita melihat tren kacamata berbingkai tebal dari masa lalu kembali ke etalase toko, atau mendengar irama musik lawas yang didaur ulang merajai tangga lagu, kita tidak perlu lagi merasa sinis.
Sebenarnya, kita sedang melihat sebuah pelukan kolektif. Kita sedang menyaksikan bagaimana umat manusia, dengan segala kerentanannya, mencoba saling menenangkan.
Desain retro yang kembali tren bukanlah sekadar estetika yang berulang karena kemalasan. Itu adalah bukti nyata bahwa sehebat apa pun teknologi membawa kita melesat ke masa depan, hati dan otak kita akan selalu membutuhkan tempat berlabuh yang familier. Menengok ke belakang ternyata bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara paling cerdas yang dimiliki otak kita untuk mengisi daya, agar kita semua sanggup melangkah maju menghadapi hari esok.